Kamis, 13 Maret 2014

Kesan dan Pesan Dalam Proses Belajar

    Sedikit pesan dan kesan yang ingin saya ungkapkan di postingan ini, yaitu kesan dan pesan yang saya rasakan selama belajar di WIDYA INFORMATIKA... 

Kesan : Selama di Widya Informatika saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari guru-guru yang telah mengajari saya, dan saya ucapkan banyak terimakasih atas ilmu yang di berikan dan mohon maaf atas segala kesalahan yang saya lakukan selama proses belajar mengajar  :( . 
Dan juga guru-guru disana sangat ramah sehingga proses belajar mengajar pun tidak kaku karena diselingi dengan candaan yang menghibur tentunya belajar pun menjadi asik dan tidak sepi sunyi seperti di kuburan, hehehe.... :O
Selain itu, selama di tempat kursus komputer ini saya juga mendapatkan teman-teman yang imoet, cutes, lucuu, dan temen-temen yang perhatian. Saling tolong menolong jika ada yang tidak mengerti dengan yang di pelajari. Wahhh,, pokonya ada happy and fun dechh... :d

Pesan : Nahh,, sekarang buat pesan yang saya harapkan buat WIDYA INFORMATIKA  semoga akan semakin jaya, semakin berhasil buat kedepannya. Buat generasi anak bangsa semakin cemerlang, berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.. woww :@


 

Cara Membuat Efek Salju, Daun, dan Bintang berjatuhan

     Widget bertebaran ini akan membuat pengunjung menjadi tidak bosan mengunjungi halaman kita. Cara Pembuatan dan cara memasangnya adalah sebagai berikut :
Memasang Efek Salju Bertaburan / Berjatuhan :
1. Login ke Blogger.com
2. Klik Nama Blog Anda.
3. Kemudian pilih Template.
4. Lalu Edit HTML dan Centang Expand Widget Template
5. Copy kode di bawah ini dan letakkan di atas kode </head>
<script src='http://misbahudin-dcaesga.googlecode.com/files/efek-salju.js'/>
6. Simpan Template.

Membuat Efek Daun Berjatuhan di Blog :
Caranya sama seperti langkah 1 sampai 4 diatas.
Lalu copy kode ini diatas </head>
<script src='http://misbahudin.googlecode.com/files/daun%20gugur.js'/>

Cara Memasang efek Bintang Berjatuhan di Blog :

Copy kode berikut dan letakkan diatas kode </head>
1. <script src="http://sites.google.com/site/amatullah83/js-indahnyaberbagi/bintang.hijau.js" type="text/javascript"></script>
2. <script type="text/javascript" src="http://naughtyric.googlecode.com/files/jrRain.js"></script>

Anda dapat menggunakan kode pertama atau kedua sesuai keinginan Anda...


cara memasang animasi jam pada blog

Ikuti langkah - langkah berikut untuk memasang animasi jam ini di blog :
  1. Buka Blogger, lalu masuk ke Tata Letak.
  2. Pilih Tambahkan Gadget -> HTML Javascript.
  3. Silahkan masukkan kode-kode Flash dibawah ini pilih mana yang anda suka
  4. Dan jangan lupa untuk mengklik Simpan.

Model Jam Animasi 1

<object><param name="movie" value="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-33.swf"><embed src="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-33.swf" width="150" height="150" wmode="transparent"> </embed></object>

Model Jam Animasi 2

<object><param name="movie" value="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-15.swf"><embed src="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-15.swf" width="150" height="150" wmode="transparent"> </embed></object>

Model Jam Animasi 3

<object><param name="movie" value="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-8.swf"><embed src="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-8.swf" width="150" height="150" wmode="transparent"> </embed></object>

Model Jam Animasi 4

<object><param name="movie" value="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-23.swf"><embed src="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-23.swf" width="150" height="150" wmode="transparent"> </embed></object>

Model Jam Animasi 5

<object><param name="movie" value="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-63.swf"><embed src="http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-for-websites/free-flash-clock-63.swf" width="150" height="150" wmode="transparent"> </embed></object>




 

Rabu, 12 Maret 2014

Pantun Nasihat


Lepas dijemur baju dilipat,
Disimpan dalam almari lama,
Jangan kita tinggalkan solat,
Kerana Solat tiang agama.

Jangan kita tinggalkan solat,
kerana solat tiang agama,
Hidup mesti bermuafakat,
Barulah harmoni sepanjang masa.

Berbudi bahasa amalan mulia,
Tanpa mengira tua dan muda,
Tiada kejayaan tanpa usaha,
Untuk berjaya jangan mudah berputus asa.

Indah perkataan kerana bahasa,
Indah akhlak kerana agama,
Jasa ibu bapa jangan dilupa,
Kerana ia tidak ternilai harganya.

Hidup berjiran mesti sepakat,
agar hubungan harmoni sentiasa,
Bertaubatlah sebelum terlambat,
kerana ajal datang tak kira usia 
 

Biografi Raja Ali Haji


     Raja Ali Haji adalah anak raja ahmad dan cucu raja haji Fisabillilah, banhsawan dari kesultanan riau lingga. Ayahnya adalah orang terpelajar yang juga termasuk pengarang riau lingga yang terkenal dan rajin menuntut ilmu. Nenek moyang raja ali haji sebetulnya adalah raja bugis yang pertama kali memeluk islam. Namanya la madusilat. Salah seorag anak La madusilat pergi mengembara hingga ketanah Riau Lingga dan mendapat kedudukan penting dalam kesltanan riau lingga.

    Raja Ali Haji tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi keagamaan dan keilmuan yang kuat. Sejak kecil ayahnya telah mendidiknya dalam mempelajari bahasa arab dan ilmu agama dengan baik bahkan ia pernah menuntut ilmu sampai ke mesir dan mekkah. Bersama dengan ayahnya dan sebelas kerabat lainya, ia termasuk bangsawan riau lingga  yang pertama kali mengunjungi tanah suci mekkah, yaitu pada 1828.


    Sekembalinya dari menuntut ilmu dinegeri sebrang Raja Ali Haji menjadi seorang ulama yang terkenal dinegerinya. Ia menjadi tumpuan orang-orang yang hendak bertanya maupun belajar masalah keagamaan ataupun masalah-masalah lainya.

     Raja Ali Haji kemudian juga terkenal akan karya-karya sastranya yang berbentuk prosa maupun puisi. Karya-karya sastranya berisi beragam tema, diantaranya hukum, sastra, bahasa, dan (Yang Paling banyak) keagamaan pada tahun 1847 Raja Ali Haji menulis salah satu karyanya yang berjudul Gurindam Duabelas. Karyanya tersebut menjadi amat terkenal. Pada tahun 1858 ia juga menulis kitab pengetahuan bahasa yang kemudian menjadi pelopor perkamusan monolingual bahasa melayu.
     Selain dua judul diatas, karyanya yang lain adalah syair Abdul Muluk, sisilah melalui didis, syair hukum nikah, syair siti sianah, tsamarat al-muhimmah, sinar gemala mustika alam, tuhfat al nafis. Sayang, di indonesia hanya syair Abdul Muluk dan gurindam Duabelas yang pernah diterbitkan secara komersial. Itupun setelah ia wafat. Hanya gurindam duabelas yang diketahuin oleh masyarakat awam di indonesia hingga saat ini. Karya-karya raja Ali Haji lebih banyak diterbitkan secara bail dan layak di malaysia. Gurindam duabelas juga pernah diterbitkan dinegeri belanda pada tahun 1953. Raja Ali Haji adalah tonggak sastra melayu yang memiliki peran penting dalam khasanah sastra indonesia.

    Melihat karya-karyanya yang bisa disebut sebagai pelopor atau cikal bakal yang melicinkan jalan terbentuknya bahasa nasional indonesia, Raja Ali Haji termasuk putra bangsa yang pantas mendapat penghargaan tinggi. Pantaslah pemerintah menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional lewat SK Presiden No.089/TK/Tahun 2004.

Ciri-Ciri karya Sastra Melayu Klasik

    Naskah melayu klasik ada yang lisan dan ada yang tertulis. Yang lisan berupa dongeng terdiri dari fabel, legenda, mite, dan parabel. Sastra Melayu Klasik yang tertulis menggunakan gaya dan ragam bahasa sekarang terasa sangat kuno. Sastra Melayu Klasik banyak menampilkan klise yang kurang efektif.

Sastra Melayu Klasik bebrbentuk prosa, terdiri dari dongeng, cerita rakyat, cerita pelipur lara, cerita jenaka, hikayat,sejarah Melayu, peribahasa, dan pepatah petitih. Sedangkan yang berbentuk puisi, terdiri dari pantun, syair, seloka, talibun, gurindam, dan karmina (pantun kilat).

Ada beberapa karakteristik sastra Melayu Klasik yaitu :

  • Bersifat anonim (tanpa nama pengarang)
  • Berkembang secara statis (sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalamiperubahan yang sangat lambat)
  • Dipengaruhi oleh kesusasteraan Hindu dan Arab.
  • Istanasentris (cerita yang mengisahkan kehidupan kerajaan, bersifat feodal)
  • Berupa hikayat,tambo, atau dongeng.
  • Pralogis, tidak berdasarkan logika (bersifat khayalan)

LAGENDA

 PUTRI MAMBANG LINAU

   

    Alkisah, di tanah Bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Ia hidup miskin dan sebatang kara, tak berayah, tak beribu, tak juga bersaudara. Namun, ia adalah pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari-harinya mencari kayu api di dalam hutan, yang kemudian dijualnya ke pasar atau ditukarkannya dengan beras dan keperluan hidupnya yang lain.
    Suatu pagi, Bujang Enok sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia dihadang seekor ular berbisa. “Ssssss……Ssssss…..”, ular itu berdesis menjulur-julurkan lidahnya ke arah Bujang Enok. Melihat ular itu, Bujang Enok berusaha menghalaunya dengan baik, namun tidak juga mau pergi. Lalu ia pun mendiamkannya. Ketika ia diamkan, ular itu justru hendak mematuk Bujang Enok. Dengan terpaksa, Bujang Enok pun melecutnya dengan semambu (tongkat rotan), pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Sekali lecut, ular berbisa itu pun menggeliat, lalu mati. Setelah melihat tak bergerak lagi, Bujang Enok segera mengubur ular itu di pinggir jalan. Setelah itu, ia pun mulai mengumpulkan kayu api. Ketika akan memulai pekerjaannya, ia mendengar suara perempuan sedang bercakap-cakap. “Ular berbisa itu telah mati”, kata sebuah suara perempuan dari arah lubuk di hulu sungai. “Syukurlah, kita tidak akan diganggu ular itu lagi”, sahut suara perempuan lainnya. Semakin lama, suara-suara tersebut semakin jelas terdengar oleh Bujang Enok, namun ia tidak menghiraukan suara tersebut, dan ia terus melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu api.
Pada saat tengah hari, seperti biasanya Bujang Enok pulang ke pondoknya. Ketika dia masuk ke dapur pondoknya, Bujang Enok merasa heran, karena di dapurnya telah tersedia nasi dan segala lauk pauk yang lezat rasanya. Karena lapar yang tak tertahan, ia pun langsung melahap semua hidangan yang tersaji itu. Sambil menikmati kelezatan makanan itu, Bujang Enok menebak-nebak dalam hati, “Ibuku sudah meninggal dunia, aku pun tak punya saudara, tetanggaku juga sangat jauh dari sini. Lalu, siapa ya…..yang menghidangkan makanan ini?”. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya. Karena penasaran, ia pun berniat untuk mencari tahu orang yang menghidangkan makanan itu.
    Keesokan harinya, Bujang Enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang telah berani masuk ke dalam pondoknya. Hari itu ia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi hingga siang ditunggunya orang yang masuk ke pondoknya. Bujang Enok menunggu di antara semak-semak yang berada tak jauh dari pondoknya. Menjelang tengah hari, tiba-tiba dari arah lubuk, datang tujuh gadis jelita. Mereka datang beriring-iringan dan menjunjung hidangan, lalu masuk ke dalam pondok Bujang Enok. Ketujuh gadis itu mengenakan selendang berwarna pelangi. Namun dari ketujuh gadis itu, gadis yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. “Waw, cantik sekali gadis yang berselendang jingga itu?”, gumam Bujang Enok sambil mengawasi gadis itu hingga hilang dari pandangannya.
    Tak lama kemudian, ketujuh gadis itu keluar dari pondok Bujang Enok, dan berjalan ke arah lubuk hulu sungai. Dengan langkah hati-hati, Bujang Enok membuntuti ketujuh gadis jelita itu hingga ke pinggir lubuk hulu sungai, lalu bersembunyi di rimbunan semak-semak. Di balik semak-semak itu, Bujang Enok dapat melihat ketujuh gadis itu tengah berganti pakaian yang akan mandi. Masing-masing gadis itu menyangkutkan selendangnya pada sebuah ranting kayu. Mereka mandi sambil bersendau gurau, hingga tak menyadari kehadiran Bujang Enok yang tak jauh dari tempat mereka mandi. Suasana yang ramai itu, digunakan Bujang Enok untuk mengambil selendang yang tergantung di ranting. Dari balik semak-semak, Bujang Enok mengaitkan sebuah tongkat ke selendang yang berwarna jingga. Kemudian ia menariknya dengan pelan-pelan, lalu meraih selendang itu dan menyembunyikan di balik bajunya. Setelah itu, ia pun kembali bersembunyi di balik semak-semak.
    Setelah selesai mandi, ketujuh gadis itu naik ke tepi lubuk lalu berganti pakaian. Masing-masing mengambil dan mengenakan selendangnya yang tergantung di ranting. Namun, di antara ketujuh gadis itu ada seorang gadis yang kehilangan selendang. “Selendang saya di mana?, tanya gadis itu sambil mencari-cari selendangnya yang hilang. Namun, tak seorang pun temannya yang tahu keberadaan selendang itu. Lalu, gadis itu meneruskan pencariannya, dibantu keenam gadis lainnya. Setelah beberapa lama mereka mencari, tapi selendang jingga itu tak kunjung ditemukan. Menjelang sore, keenam gadis yang telah mengenakan selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang-layang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang itu seorang diri di tepian lubuk. Sementara itu, Bujang Enok tercengang-cengang menyaksikan peristiwa itu dari balik semak-semak. Bujang Enok terus memandangi keenam gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Makin tinggi terbang ke angkasa, makin kecil keenam gadis itu terlihat. Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandangan Bujang Enok.
    Setelah itu, Bujang Enok keluar dari persembunyiannya dan menghampiri gadis yang sedang mencari-cari selendangnya. “Apa yang kau cari, wahai gadis cantik?” tanya Bujang Enok. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang berwarna jingga, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Gadis itu sambil menyembah. Bujang Enok menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata: “Saya bersedia mengembalikan selendang jingga milik Tuan Putri, tetapi dengan syarat, Tuan Putri bersedia menikah dengan saya,” kata Bujang Enok. “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula, apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita akan bercerai kasih,” kata gadis jelita itu dengan tulus. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu. Nama saya Bujang Enok,” jelas Bujang Enok memperkenalkan dirinya. “Nama saya Mambang Linau,” kata gadis jelita itu membalasnya. Sejak saat itu, mereka menjalin cinta kasih dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bujang Enok dan Mambang Linau hidup bahagia, rukun dan berkecukupan.
Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Kemudian sang Raja pun memanggil Bujang Enok menghadap kepadanya untuk diangkat menjadi Batin (Kepala Kampung) di kampung Petalangan. Bujang Enok pun datang ke istana. Setelah di hadapan Raja, “Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”, tanya Bujang Enok sambil memberi hormat. “Wahai Bujang Enok, bersediakah kamu saya jadikan Batin di kampung Petalangan?‘, sang Raja bertanya pula. “Ampun, Baginda! Jika itu kehendak Baginda, dengan senang hati hamba bersedia menjadi Batin”, jawab Bujang Enok pelan sambil memberi hormat. Kesediaan Bujang Enok menjadia Batin membuat sang Raja senang. Beberapa hari kemudian, Bujang Enok pun dilantik menjadi Batin di kampung Petalangan.
Sejak menjadi Batin, Bujang Enok pun menjadi salah seorang kepercayaan sang Raja. 
    Setiap mengadakan pesta, sang Raja selalu mengundang Bujang Enok. Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Dalam pesta itu wajib diisi dengan tari-tarian yang dipersembahkan oleh dayang, istri pembesar istana, istri para penghulu dan kepercayaan raja, termasuk istri Bujang Enok, Putri Mambang Linau. Setelah acara dimulai, satu persatu para istri mempersembahkan tarian mereka. Putri Mambang Linau yang sedang menyaksikan pertunjukan tarian itu, mulai berdebar-debar. Dalam hatinya, “Jika aku ikut menari, berarti aku akan bercerai dengan Suamiku”. Baru saja ia selasi bergumam, tiba-tiba, “Kami persilakan Putri Mambang Linau,” titah Raja diiringi tepuk tangan para hadirin. Mendengar titah sang Raja, hatinya pun semakin berdebar kencang. Bujang Enok yang duduk di sampingnya menoleh ke arah istrinya, “Wahai adinda Mambang Linau, kakanda menjunjung tinggi titah raja,” bisik Bujang Enok. Mambang Linau mengerti maksud bisikan suaminya, lalu menjawab “Demi menjunjung titah raja dan rasa syukur atas tuah negeri, saya bersedia menari,” jawab Mambang Linau seraya mengenakan selendang berwarna jingga dan kemudian menuju ke atas pentas.
Sebelum memulai tariannya, Putri Mambang Linau terlebih dahulu melakukan gerakan-gerakan persembahan untuk menjaga tata kesopanan dalam istana dan menghormati sang Raja. Setelah itu, ia pun mulai menari layaknya seekor burung elang. Ia melambaikan selendangnya seraya mengepak-ngepakkannya. Perlahan-lahan kakinya diangkat seperti tak berpijak di bumi. Tiba-tiba Mambang Linau meliukkan badannya, dan seketika itu ia pun terbang melayang, membubung ke angkasa menuju kayangan. Semua yang hadir terperangah menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali lagi. Sejak itu pula, Batin Bujang Enok bercerai kasih dengan Putri Mambang Linau. Betapa besar pengorbanan Bujang Enok. Ia rela bercerai dengan istrinya demi menjunjung tinggi titah sang Raja.
    Menyadari hal itu, sang Raja pun menganugerahi Bujang Enok sebuah kehormatan yaitu dilantik menjadi Penghulu yang berkuasa di istana. Dari peristiwa ini pula lahir sebuah pantun yang berbunyi:
Ambillah seulas si buah limau
Coba cicipi di ujung-ujung sekali
Sudahlah pergi si Mambang Linau
Hamba sendiri menjunjung duli
    Setelah peristiwa itu, Raja Negeri bertitah bahwa untuk menghormati pengorbanan Bujang Enok, maka setiap tahun diadakan acara tari persembahan. Tarian ini mengisahkan Putri Mambang Linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan Bujang Enok. Karena gerakannya menyerupai burung elang yang sedang melayang (elang babegar), maka tarian itu dinamakan tarian elang-elang. Kini, masyarakat Riau lebih senang menyebutnya tari olang-olang. Tarian olang-olang ini biasanya dimainkan dengan diiringi oleh gendang (gubano) rebab, calempong dan gong. Tarian ini dapat dijumpai di kecamatan Siak dan Merbau, kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia.